Artikel

AMANAT KETUA UMUM PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA PADA PERINGATAN HARI SANTRI TANGGAL 22 OKTOBER 2017   السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين اللهم صل وسلم على سيدنا ومولانا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين

Jakarta, NU Online Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghoffar Rozien menyerukan agar Presiden Joko Widodo menepati janjinya dalam kampanye. Jika Presiden pernah mengusulkan 1 Muharam, RMI berpendapat 22 Oktober lebih tepat karena alasan historis.

Dalam telaah tentang peristiwa pertempuran 10 November 1945 yang menjadi Hari Pahlawan, sejumlah tanda tanya yang muncul terkait latar belakang peristiwa tersebut muaranya selalu mengarah kepada satu peristiwa yang berangkaian satu sama lain yang tidak bisa dihapuskan salah satunya sebagai

Oleh Zainul Milal Bizawie –Apa yang dikhawatirkan Pangeran Hendrik, seorang Pangeran Muda Belanda berusia 16 tahun ketika mendatangi Pangeran Diponegoro di tempat pengasingannya, kiranya terbukti ketika terjadi revolusi fisik 1945-1949. Meskipun Belanda harus menghadapi Indonesia secara militer dan diplomasi, namun

Hari ini, 22 Oktober, 67 tahun lalu PBNU menyerukan Resolusi Jihad di Surabaya untuk menyikapi perkembangan situasi yang menunjukkan gelagat bakal berkuasa kembalinya penjajah Belanda melalui pemerintahan yang disebut NICA. Pada awal Oktober 1945, tentara Jepang di Semarang dan Bandung

PENULIS: KH. AGUS SUNYOTO Malam hari tanggal 22 Oktober 1945, 66 tahun silam, dalam pertemuan di Kantor Ansor Surabaya, yang dihadiri konsul-konsul se-Jawa dan madura, Rais Akbar PBNU  KH Hasyim Asy’ari, menyampaikan amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam,