Kiai Sulton Fatoni; Lupakan Sakit dengan Tekad Khidmah
18 Agustus 2019 Share

Kiai Sulton Fatoni; Lupakan Sakit dengan Tekad Khidmah

Akhir-akhir 2016, sempat menjadi minggu-minggu yang berat bagi seorang Muhammad Sulton Fatoni. Itu setelah ia makin jelas mengetahui riwayat radang usus yang dideritanya. Medis menyebutnya colorectal cancer. Sejenis kanker yang menyerang saluran pencernaan. Auto imunnya terus menurun. Di akhir-akhir tahun itu, tubuhnya terlihat makin kurus.
Sulton Fatoni bimbang. Apakah akan mencoba upaya pengobatan sekuat biaya dan tenaga yang tidak kecil resikonya, atau cukup usaha dhohir sewajarnya saja, selebihnya berserah pada takdir yang kuasa. Di tengah hari-hari yang demikian, Sulton tak sediktpun mengurangi aktifitasnya. Ia masih beraktifitas normal baik sebagai Waki Rektor II UNUSIA Jakarta, maupun sebagai Ketua PBNU.

Beruntung oase pencerahan kemudian datang menenangkan. Kyai Said Aqil Siroj, sang guru yang sekaligus Ketua Umum PBNU yang sudah sepuluh tahun terakhir di khidmatinya mendawuhkan nasehat mulia.
“Seberapa besar kebutuhanmu berobat? Kamu percaya sedekah menjadi obat bagi jasmani yang sakit?”. Sebelum sempat dijawab, Kyai jebolan Ummul Quro itu buru-buru melanjutkan, “Teruskan ikhtiarmu berobat. Tapi ingat kesembuhan itu datangnya dari Allah. Biar kuat ikhtiarmu, bersedekahlah. Kalau mampu, sedekahkan sebagian dari hartamu senilai dengan biaya pengobatanmu,”.

Sulton Fatoni pun tergerak. Namun dia tak langsung bangkit. Melalui beberapa saran dan pertimbangan, memang sudah direncanakan operasi pengangkatan radang usus di sebuah rumah sakit rujukan di Kuala Lumpur Malaysia. Untuk memantabkan hatinya, ia putuskan untuk melaksanakan umroh terlebih dulu. Ditemani istrinya, pada awal Maret 2017 Sulton berkunjung ke haramain. Ia adukan gundah hatinya di depan ka’bah. Ia juga menangis di depan roudhoh.

Sepekan sepulang umroh Sulton langsung terbang ke Malaysia. Dengan hati lapang dan berpasrah, Sulton masuk ruang operasi bedah. Mengenakan baju RS berwarna hijau tosca tua, ia nampak pasrah. Ditangani para dokter berpengalaman, alhamdulillah operasi rektum berjalan lancar. Dan sebagaimana diniatkan, sedekah juga dikeluarkan.

Pasca operasi, kesehatan Sulton Fatoni berangsur membaik. Berat badannya terus naik. Bahkan tak sampai sebulan menjalani rehat ia langsung aktif kembali mengajar. Mengurus pembangunan gedung baru UNUSIA di Parung. Dan memonitor pengelolaan NUcare-Lazisnu pusat dimana ia menjadi koorbidnya.

Kegiatan awal yang dilakukan Sulton, ia juga langsung sowan kepada gurunya Kyai Ahmad Nawawi Abdul Jalil, Kyai kharismatik pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Di pesantren salaf yang sayap bisnisnya beromzet 2,5 triliun ini, empat tahun lamanya Sulton menimba ilmu agama.

Melalui sarana sosial media yang cepat, ia juga sibuk mendistribusi 5 ribu mushaf Alqur’an ke masjid, musholla, dan lembaga-lembaga pendidikan yang membutuhkan. Kebetulan pada Juni 2017 LAZISNU PBNU mendapat wakaf mushaf Alqur’an tersebut dari sebuah perusahaan kertas ternama, Asia Pulp & Paper (APP). Di waktu yang tak terlalu lama, Sulton juga menyelesaikan buku barunya yang ia beri judul “Buku Pintar Islam Nusantara”. Sebagai instruktur Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU), ia juga ikut berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain menjalankan misi pengkaderan NU.

Lalu, dalam kondisi fisik yang ekstra fit, pada Oktober 2018 ia juga dipercaya menjadi Ketua Panitia pembangunan gedung baru kampus UNISIA Parung, Bogor. Dalam batas waktu setahun, Sulton ditugaskan mengawal pembangunan tiga unit sarana perkuliahan yang terdiri dari ruang perpustakaan dan laboratorium, gedung serbaguna, dan ruang perkuliahan. Gedung baru ini diestimasi akan dapat sarana studi yang layak bagi sedikitnya 1.050 mahasiswa.

“Saya membayangkan kampus ini nantinya menjadi wadah yang membaurkan mereka yang berlatar belakang berbeda. Bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga belajar memahami konsep penguatan sosial budaya,” gumam Sulton, Minggu siang, 14 Juli 2019, ketika menengok untuk terakhir kalinya gedung baru UNUSIA Parung yang telah masuk 80% pembangunan.

Di Minggu yang terik itu, dalam kondisi lemah Sulton memang memaksakan diri menengok kampus Parung. Meski sedikit pucat, ia nampak lega melihat gedung 4 lantai sudah berdiri sempurna. Sulton optimis pada Oktober 2019 nanti, sebagaimana masa kontrak pembangunan, gedung baru UNUSIA Parung bakal selesai dan siap difungsikan.

Awal-awal 2019 awan mulai terasa sedikit kelam. Sulton baru menyadari ternyata operasi rektum yang dia jalani 22 bulan silam belum benar-benar membersihkan penyakit yang dia derita. Sulton baru menyadari setelah merasakan daya tahan tubuhnya terus menurun. Ia pun melakukan check up. Sulton hanya bisa diam tertunduk saat dokter menyebut kalau ternyata radang ususnya kambuh dan kembali menyerang saluran cerna di perutnya.

Sulton sempat menjalani beberapa kali perawatan di RSCM Jakarta. Sempat juga dirawat di kampung halamannya di Lumajang. Namun diam di rumah atau tidur di ranjang pesakitan sepertinya bukan pilihan Sulton. Jiwa dan raganya sudah terlalu dalam terjerembab dalam mahabbah dan perkhidmatan NU. Boleh jadi tubuhnya cukup lemah. Bahkan dokter melarangnya pergi kemana-mana. Namun dengan tekad khidmat, pasca lebaran Juni lalu, ia putuskan kembali ke Jakarta.

Sulton Fatoni lahir di Lumajang 17 Maret 1973. Dari pernikahannya dengan Elissa Sukmawati, ia memiliki tiga buah hati; Raisha Fatoni, Hamda Fatoni, dan Daqiqia Muhammad Said. Santri kebanggaan Sidogiri itu menghadap keharibaan-Nya pada usia 46 tahun. Sulton menghembuskan nafas terkahir pukul 00.30 WIB di Rumah Sakit Permata Depok, Jawa Barat, pada Kamis 8 Agustus 2019. Almarhum sempat di semayamkan, disholatkan, dan dilakukan penghormatan di kantor PBNU Jl. Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, sebelum akhirnya diterbangkan ke Lumajang. Kamis malam, jenazah Sulton tiba di rumah duka di kompleks Madrasah Al-Munawwarah, Jalan Citarum nomor 38 Desa Suko Kecamatan Jogoyudan, Lumajang. Bupati Lumajang dan jajaran PCNU Lumajang turut mengantarkan jenazah almarhum dari rumah duka ke Taman Pemakan Umum Jogoyudan, Lumajang. Selamat jalan Kyai Muhammad Sulton Fatoni. Selamat jalan santri kebanggaan. (didik suyuthi)