9 Oktober 2015
0 comments
Share

Resolusi Jihad NU Api Penyulut Pertempuran 10 November 1945

PENULIS: KH. AGUS SUNYOTO

Agus SunyotoMalam hari tanggal 22 Oktober 1945, 66 tahun silam, dalam pertemuan di Kantor Ansor Surabaya, yang dihadiri konsul-konsul se-Jawa dan madura, Rais Akbar PBNU  KH Hasyim Asy’ari, menyampaikan amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam, pria maupun wanita, dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya. Lalu dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah itu kemudian menyimpulkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”

Sejak Resolusi Jihad Fii Sabilillah dimaklumkan suasana Surabaya bergolak dalam ketegangan, terutama karena pemimpin-pemimpin pemerintahan dan kalangan pergerakan maupun TNI berbeda sikap dengan kebijakan pemerintah pusat di Jakarta. Menteri Pertahanan Drg Moestopo, tegas menolak pendaratan pasukan Sekutu yang akan mengurusi para tawanan perang Jepang dan interniran Belanda.Tapi karena perintah langsung Presiden Soekarno, pasukan Sekutu di bawah Brigjen A.W.S. Mallaby mendaratkan sekitar 2600 orang pasukan Brigade ke-49 Maharatta ke Surabaya pada tanggal 25 & 26 Oktober 1945.

Tanggal 27 – 28 – 29 Oktober 1945 — lima haris setelah Resolusi Jihad NU dimaklumkan — pecah pertempuran antara arek-arek Surabaya melawan pasukan Brigade ke-49 Maharatta. Para saksi mata menyatakan bahwa Perang Tiga Hari itu bukan pertempuran tetapi lebih mirip tawuran massal, karena arek-arek Surabaya tidak ada yang memimpin. Sambil meneriakkan takbir mereka mengepung pasukan Sekutu. Seluruh kota keluar dari rumah mengepung dan mengejar serta membunuh pasukan sekutu. Walhasil, tak kurang dari 2000 orang tentara sekutu tewas. Brigjen A.W.S. Mallaby sendiri tewas digranat pada tgl 31 Oktober 1945.

 

Sumber: khagussunyoto.blogspot.co.id

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Komentar

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *