11 Oktober 2015
1 comment
Share

Renungan Sekilas Pertempuran Surabaya 10 November 1945

AgusSunyotoDalam telaah tentang peristiwa pertempuran 10 November 1945 yang menjadi Hari Pahlawan, sejumlah tanda tanya yang muncul terkait latar belakang peristiwa tersebut muaranya selalu mengarah kepada satu peristiwa yang berangkaian satu sama lain yang tidak bisa dihapuskan salah satunya sebagai pemicu dari meletusnya Pertempuran 10 November 1945 yang berlangsung selama 100 hari. Pertama, serbuan balatentara Inggris terhadap kota Surabaya dari darat, laut dan udara pada 10 November 1945 tidak akan terjadi jika Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby tidak terbunuh pada tanggal 30 Oktober 1945 saat berusaha mendamaikan pasukan Inggris dengan arek-arek Surabaya yang terlibat tawuran massal. Kedua, perdamaian yang ditengahi Presiden Soekarno pada 30 Oktober 1945 itu tidak akan terjadi jika tidak terjadi tawuran massal pada 27 – 28 – 29 Oktober 1945 yang melibatkan seluruh penduduk kota Surabaya melawan pasukan Inggris dari Brigade ke-49 Mahratta yang membawa korban sekitar 2000 orang tentara Inggris tewas. Dan ketiga, tawuran massal 27 – 28 -29 Oktober 1945 itu tidak akan terjadi jika pada 22 Oktober 1945 tidak dikumandangkan Resolusi Jihad.

Sepanjang penulisan sejarah pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, memang kita dapati usaha dari individu-individu dan kelompok-kelompok tertentu yang melakukan berbagai usaha untuk mempahlawankan diri, sehingga fakta tentang tawuran massal pada 27 – 28 – 29 Oktober 1945 yang tanpa komando dan tanpa komandan itu selalu ditutup-tutupi dan dikecilkan maknanya. Akibatnya, Resolusi Jihad yang menjadi pembakar semangat penduduk Surabaya yang terkenal bonek itu tertutupi. Yang lebih aneh, meski pengakuan lisan para perwira TNI dan pejuang yang terlibat pertempuran 10 November 1945 menyatakan jumlah pasukan Hizbullah, Sabilillah dan lasykar santri dari Malang, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Lamongan, Tuban, bahkan rembang dan Cirebon menjadikan pertahanan Surabaya sulit ditembus pasukan Inggris, toh dalam buku-buku sejarah fakta itu seperti hilang tersapu angin. Icon Jihad berupa Takbir – ALLAHU AKBAR — yang dikumandangkan sepanjang pertempuran 10 November 1945 seolah-olah bukan fakta bahwa ada semangat jihad yang mendasari semangat tempur rakyat maupun militer dalam pertempuran tersebut. Bahkan sebagian pasukan Inggris dari Brigadi ke-49 Mahratta yang berasal dari Suku Gurkha, membelot dari perintah atasan setelah sadar bahwa yang mereka hadapi adalah penduduk muslim yang sedang berjihad melawan penjajah.

Lepas dari diakui dan tidak diakuinya peran umat Islam dalam usaha membela Negara Indonesia lewat Resolusi Jihad yang bermuara pada pecahnya pertempuran 10 November 1945, yang pasti pemrakarsa Resolusi Jihad itu, KH Hasyim Asy’ari, lewat Keputusan Presiden RI No.29 Tahun 1964 ditetapkan sebagai PAHLAWAN KEMERDEKAAN NASIONAL. Semoga dengan mengingat peristiwa bersejarah ini, generasi muda Indonesia khususnya dari kalangan Nahdliyyin senantiasa ingat tentang apa yang disebut sejarah kebangsaan, jihad, bela negara, dan prinsip-prinsip Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah yang tegak di atas keragaman bangsa yang sangat majemuk ini. Untuk mengetahui riwayat KH Hasyim Asy’ari dan keterlibatan beliau dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Comments

  1. Hilmi
    Hilmi Agustus 21, 16:49
    Ayo min, terus tampilkan fakta2 sejarah santri.. penting itu

Komentar

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *